Tips dan Trik

9 Cara Basmi Hama Tikus Yang Merugiakan Padi, Salah satunya manfaatkan Musuh Alami

Ilustrasi Tikus sawah. (Foto: Pixabay).

Tunasnegeri.com – Tikus merupakan hama yang selalu menimbulkan masalah karena pengendalianya yang tergolong terlambat.

Umumnya para petani akan membasmi tikus setelah terjadi serangan. Selain itu, populasi tikus yang tak di antisipasi sebelumnya yang kurang perhatian menyebabkan keruguan yang besar.

Umumnya tikus-tikus menyerang padi yang masih muda atau saat tanaman sudah vegetatif. Jangka waktu tanam vegetatif biasanya berlangsung selama 25 hari, untuk itu petani akan meningkatkan pola gropyokan untuk membasmi tikus.

Dilansir dari cyber pertanian Kemenrian pertanian pada Jumat (15/4/2022). Setidaknya ada sembilan cara pengendalian hama tikus sawah:

1. Tanam dan panen serempak.
Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari dua minggu. Hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus.

2.Sanitasi habitat.
Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dll. minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang.

3. Gerakan bersama (gropyokan massal). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/mebunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dan sebagainya.

4. Fumugasi / pengemposan.
Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.

5. Trap Barrier System (TBS).
TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha.

6.Linier Trap Barrier System (LTBS).
LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah. LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau di pasang selama 3 malam.

7. Memanfaatan musuh alami.
Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain.

8. Rodentisida, yang merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan.

9. Pengendalian lokal lainnya dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like