PERTANIAN

Arum Sabil : Smart Farming 4.0, Konsep Teknologi Pertanian Masa Kini

HM. Arum Sabit saat berada di lahan pertanian miliknya (Foto: Tunasnegeri)

Tunasnegeri.com – Arum Sabil Praktisi Agribisnis Nasional mengistilahkan smart farming atau pertanian cerdas saat ini semakin populer di masyarakat.

Arum Sabil menyebutkan “pemanfaatan layanan Big data berbasis cloud, Internet of Things, GPS dan Drone dalam sektor pertanian diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dalam industri agrikultur. Selain itu dengan adanya digitalisasi pertanian dapat membantu mempermudah dan memperlancar seluruh proses pertanian dari produksinya hingga pemasarannya.”

Penerapan smart farming 4.0 bukan hanya sekedar tentang penerapan teknologi semata, tetapi kunci utamanya adalah data yang terukur. Data ini yang nantinya akan dibaca dan digunakan sebagai parameter bagi pelaku pertanian untuk mendapatkan acuan dan rekomendasi dalam praktek pertaniannya, sehingga diharapkan lebih efisian dan efektif dalam mengoptimalkan seluruh sumber daya alam yang dimilikinya.

Pemerintah mendukung penggunaan teknologi smart farming 4.0 untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pemerintah menargetkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada Tahun 2045. Dengan meningkatnya kapasitas produksi regional diharpakan kedaulatan dan ketahanan pangan nasional dapat tercapai, sehingga peluang ekspor pangan ke pasar Internasional juga semakin besar.

1. Keterlibatan Teknologi

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini mempermudah dalam hal inovasi teknologi pertaian. Berikut adalah teknologi-teknologi yang dapat mendukung pengembangan konsep smart farming.

2. Teknologi Penginderaan

Selama ini petani mengandalkan asumsi untuk untuk mengukur kualitas tanah. Dengan adanya teknologi sensor cerdas petani dapat mengatahui kandungan tanah yang sesungguhnya. Mulai dari kelembaban, kandungan air dan manajemen suhu. Semua terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan petani dapat memantau kondisi lahan tanpa harus pergi ke lahan.

3. Software/Aplikasi

Aplikasi dapat membantu mempermudah mengelola, mengolah data dan informasi yang dihasilkan dari alat sensor cerdas. Fungsinya sebagai antarmuka bagi petani supaya data tersebut lebih mudah dibaca dan dipahami.

4. Teknologi Komunikasi

Perangkat telekomunikasi seluler dapat digunakan untuk mengirimkan informasi terkait kondisi lahan pertanian dan sebagai pengingat aktivitas pertanian.

5. Teknologi GPS

Perangkat GPS dapat digunakan untuk pemetaan lahan. GPS menerima sinyal satelit yang mengorbit ke bumi kemudian digunakan sebagai navigasi alat-alat pertanian. Mulai dari mengetahui lokasi lahan yang sudah atau belum dipupuk hingga mengetahui produktivitas suatu lahan.

6. Perangkat Keras/Hardware

Perangkat keras membantu pekerjaan secara otomatis dan terukur. Di negara-negara seperti Amerika dan Australia sudah menggunakan teknologi Robot dan Drone dalam praktek pertaniannya. Hal ini dilatarbelakangi beberap faktor, antara lain aktivitas pertanian yang monoton, memiliki resiko tinggi atau berbahaya, luasnya lahan memerlukan banyak tenaga kerja. Seperti Robot RIPPA yang dikembangkan oleh University of Sydney yang mampu mendeteksi tanaman, buah, atau gulma, dan kemudian dapat secara otomatis menghilangkan tanaman yang tidak diinginkan atau menyemprotkan produk pada tanaman. Dengan menggunakan Robot diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas sarana produksi.

7. Analisa Data

Semua data on farm akan dianalisa secara menyeluruh oleh sistem aplikasi dan digunakan sebagai acuan untuk pengambilan keputusan dan prediksi pertanian kedepan. Hasil analisa juga dapat digunakan oleh petani untuk mendapatkan solusi terkait dengan budidaya pertanian.(*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like