SOSIAL

Belajar Dari Alam

Tunasnegeri.com-Banjir bandang Panti. Awal tahun 2006. Menjadi bencana nasional. Rumah, sawah, jembatan, hancur diterjang ganasnya air berlumpur. Airnya tak panas. Tapi soal korban jiwa, melebihi angka seratus orang.

Banyak perempuan mendadak janda. Pria pun menduda. Anak-anak jadi yatim. Bahkan piatu. Karena orang tercinta, jadi korban banjir terdahsyat di Jember. Tak sedikit warga terdampak bencana, tiba-tiba miskin.

Nyaris sama dengan di Lumajang. Bencana datang dari erupsi Gunung Semeru. Letusannya belum seberapa besar. Namun dampaknya, sudah luar biasa. Jera. Tak mau lagi. Ampun Tuhan.

Arum Sabil, kembali hadir di tengah bencana. Seperti di foto ini. Dia datang ditemani sang putri, Riski Ayuningati. Bersama rombongan Brigade Penolong 13 Kwarda Jatim, disambut langsung Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar. Abah dan Bunda.

15 tahun silam, Arum berseragam Pramuka di lokasi Bencana Banjir Bandang Panti – Jember. Kini di Candipuro – Lumajang, dia masih setia dengan seragam berlambang tunas kelapa. Bedanya, jika kala itu dia Ketua Saka Taruna Bhumi, kita naik jadi Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur. Posisi struktural tertinggi Pramuka di Jatim.

Pernah membaca bukunya : Belajar Dari Alam. Buka tentang buah pikir Arum Sabil, ditulis pasca bencana Panti. Sebuah bacaan, berpesan, tentang manusia yang menghargai alam. Berteman. Bersahabat. Memiliki rasa cinta pada alam. Pemberi kebutuhan hidup manusia. Dia yakin, alam tak pernah mau bermusuhan dengan manusia. Apalagi sampai mau menyakiti, membuat susah, hingga mencabut nyawa. Tidak. Alam sayang manusia.

Pesan konkritnya kala itu, jangan sembarangan tebang pohon. Gunung tak boleh gundul. Kecuali manusia menghendaki, longsoran dan banjir kembali datang.

Pun demikian Gunung Semeru. Pemberi rezeki sehari-hari, pelaku usaha pertambangan galian C di sana. Pasirnya berkualitas terbaik. Belum lagi batunya, berpori-pori, ringan, kokoh. Mahal. Bernilai ekonomi tinggi. Menghasilkan pundi rupiah. Berkah bagi warganya. Penghasil PAD untuk Pemda-nya.

Kini giliran bencana. Berduka. Masyarakat kompak, menunjukkan solidaritasnya. Duka Lumajang, duka Ibu Pertiwi. Juga duka Presiden Jokowi. Doanya, jangan terulang lagi.

Belajar Dari Alam. Jika kembali datang bencana, jangan sampai ada korbannya. Mitigasi, menjadi kunci.

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like