PARIWISATA

Bentuk Satgas Parlemen Dunia Guna Atasi Konflik Rusia-Ukraina, Fadli Zon Dorong Pertemuan Tiga Pihak

Fadli Zon saat Rapat secara virtual. (Foto: Twitter @fadlizon).

Tunasnegeri.com – Guna mendorong percepatan penyelesaian politik terkait konflik Rusia-Ukraina, Organisasi Parlemen Dunia/Inter-Parliamentary Union (IPU) membentuk Satuan Tugas yang disebut dengan Satgas IPU. Satgas tersebut dibentuk atas dorongan serta inisiatif Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI dalam perhelatan Sidang Umum IPU ke-144 yang dilaksanakan pada akhir Maret lalu, di Nusa Dua.

Fadli Zon, Ketua BKSAP DPR RI yang juga sekaligus menjadi Anggota Satgas IPU untuk mengatasi konflik Rusia-Ukraina menjelaskan, penyelesaian politik tersebut diperlukan untuk mencegah agar penyelesaian militer terkait konflik Rusia-Ukraina tidak bereskalasi dan mengarah kepada dua bencana besar yang dapat beresiko menghancurkan dunia, yaitu Perang Dunia III atau Perang Nuklir (nuclear war).

“Dunia harus bekerjasama mendorong tercapainya penyelesaian politik atas perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina,” ujarnya.

Berdasarkan sidang majelis IPU dan proses voting, Fadli Zon memaparkan jika didapatkan kesepakatan resolusi yang berjudul ‘Peaceful Resolution of the War in Ukraine, Respecting International Law, the Charter of the United Nations and Territorial Integrity’. Resolusi tersebut merupakan bentuk nyata komitmen parlemen dunia untuk terlibat langsung dalam mendorong penyelesaian damai antara Rusia dengan Ukraina.

Satgas IPU dibentuk dengan beranggotakan delapan orang yang mewakili enam Grup Geopolitik, yaitu Afrika Selatan dan Namibia sebagai wakil Grup Afrika, Uni Emirat Arab mewakili Grup Arab, Indonesia mewakili Grup Asia Pasifik, Kazakhstan mewakili Grup Eurasia, Uruguay sebagai wakil untuk Grup Amerika Latin dan Karibia, serta Belanda dan Israel sebagai wakil Grup Twelve Plus yang meliputi wilayah Eropa Barat. Indonesia sendiri menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia-Pasifik yang menjadi anggota Satgas IPU tersebut.

“Dalam pertemuan pertama IPU Task Force tanggal 25 April 2022 kemarin, saya mendesak agar perwakilan parlemen dunia segera melakukan langkah-langkah diplomasi konkret untuk mencegah peperangan mencapai eskalasi yang tidak diinginkan,” papar Fadli Zon.

Menurut Fadli Zon, hasil kerja Satgas IPU tersebut akan menjadi ujian terkait berfungsi atau tidaknya diplomasi parlemen sebagai bagian dari diplomasi total. Oleh karena itu, agar berfungsi dengan baik Satgas IPU harus bisa mendapatkan kepercayaan dari kedua belah pihak, yaitu Rusia dan Ukraina. Sehingga, pembicaraan tripartit antara Satgas IPU, Parlemen Rusia, dan Parlemen Ukraina dapat menghasilkan kesepakatan yang berarti.

Sebagai pengusul terbentuknya Satgas, Fadli Zon juga menekankan pentingnya Satgas IPU untuk bersifat imparsial dan netral. Hal tersebut supaya Satgas IPU dapat bekerja secara objektif untuk mengakhiri perang, de-eskalasi konflik, membuka koridor kemanusiaan, serta tercapainya kesepakatan damai.

Pertemuan yang digelar secara virtual tersebut dibuka langsung oleh Presiden IPU Duarte Pacheco dan Sekretaris Jenderal IPU Martin Chungong. Pertemuan tersebut juga memutuskan Wakil Presiden IPU Ali Rashid Al Nuaimi, Anggota Federal National Council Uni Arab Emirates sebagai Ketua Satgas IPU, serta memilih Peter Katjavivi Ketua Parlemen Namibia sebagai Wakil Presiden Satgas.

Sesudah terbentuknya organisasi kerja dalam Satgas IPU, pertemuan dilanjutkan dengan membahas agenda yang akan dilakukan Satgas IPU kedepannya. Mulai dari rencana kunjungan, jadwal pertemuan, hingga aspek-aspek lain yang akan mendukung kerja Satgas. Pertemuan kemarin digelar dengan mengundang Diplomat Senior Swiss, Walter Gyger, dan Siobhan Martin ahli studi keamanan global dari the Geneva Center for Security Policy (GCSP), yang dimintai masukannya mengenai strategi untuk mendorong tercapainya penyelesaian politik atas perang Rusia-Ukraina.

“Kita tentunya berharap agar langkah diplomasi Organisasi Parlemen Dunia ini bisa menjadi bagian signifikan dari upaya mencapai penyelesaian politik tersebut. Jangan sampai konflik tersebut menjerumuskan kita pada dua bencana yang sangat tidak diharapkan tadi, yaitu Perang Dunia III dan Perang Nuklir,” ujar Fadli Zon.

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like