EKONOMI

Dahlan Iskan Pikirkan Solusi Jangka Panjang Untuk Komoditas Porang, Ini Bocorannya

Dahlan Iskan, jurnalis senior. (Foto: Istimewa)

Tunasnegeri.com – Tren budidaya tanaman Porang yang merebak di berbagai penjuru tanah air selama beberapa waktu terakhir, menarik perhatian jurnalis senior, Dahlan Iskan. Seperti biasa, dengan gaya tulisannya yang renyah, Dahlan menuliskan analisanya melalui sebuah artikel yang dimuat di media miliknya saat ini, Disway.
“Apakah ini tidak berbahaya? Apakah harganya tidak akan jatuh?” tulis Dahlan mengutip pertanyaan seseorang yang ditujukan kepadanya dalam sebuah sesi zoom. Dahlan tidak lantas menjawab atau mengomentari pertanyaan itu. Mantan Menteri BUMN ini mengawali ulasannya dengan mengenang saat awal-awal booming tanaman Porang di Indonesia.
Dahlan Iskan rupanya termasuk salah satu sosok yang turut memperkenalkan tanaman Porang kepada para petani di Indonesia. Dahlan mengenang, betapa sulitnya meyakinkan para petani di Purwodadi dan Blora –keduanya di Jawa Tengah- untuk mencoba budidaya tanaman Porang.
Lambat laut, tanaman Porang kian populer di Indonesia. Kepopuleran tanaman Porang ini ditunjang dua hal yang saling terkait: budidaya yang mudah dan murah serta harga jual yang tinggi. Sebuah kombinasi yang amat menggiurkan dalam budidaya atau bisnis komoditas apapun. Namun, tetap saja, sesuai prinsip ekonomi timbul kekhawatiran akan ada anjloknya harga karena over produksi.
“Bisa jadi, suatu saat akan berubah jadi bencana: ketika benih sudah ikut naik, jangan sampai harga tiba-tiba jatuh. Petani bisa rugi,” tulis Dahlan.
Namun sampai hari ini, komoditas Porang masih menggiurkan. Dahlan menyebut, kisaran harga jual Porang di tingkat petani mencapai Rp 8 ribu per kilogram, padahal biaya produksinya hanya di kisaran Rp 2 ribu per kilogram.
“Tanpa dikampanyekan pun, petani tergerak sendiri untuk tanam porang,” ujar Dahlan.
Gencarnya ekspor tanaman Porang rupanya diimbangi oleh aspek lain. Yakni bergeliatnya aspek hilir produksi berupa berdirinya sejumlah pabrik tepung porang. Hasil produksi tepung porang inilah yang menjadi bahan baku pabrik glukomanan di luar negeri.
Dengan tren yang masih baik, Dahlan menilai komoditas porang sebagai komoditas pertanian yang paling mandiri. Sebab, buddidaya tanaman ini tidak bergantung pada pupuk subsidi serta penyuluhannya dilakukan dari sesama petani, bukan penyuluh pemerintah.

Budidaya Tanaman Porang. (Foto: Istimewa)

Bahkan, Dahlan menilai, budidaya tanaman Porang adalah komoditas yang paling menguntungkan saat ini. Porang merupakan bahan baku dari glukoman yang merupakan bahan mentah untuk sejumlah produk makanan.
Namun tak cukup hanya di situ. Dahlan terpikir tentang bagaimana mendorong pengolahan tanaman Porang menjadi komoditas lain yang bernilai tambah lagi. Ia lantas menghubungi Hamzah Muhammad Ba’abud, seorang penemu muda yang beberapa tahun silam berhasil membuat mesin untuk pengolahan rumput laut. Dahlan mengaku, dari beberapa kali komunikasinya, ternyata Hamzah telah berhasil membuat mesin khusus yang mampu mengolah tepung Glukoman – hasil olahan setengah matang dari Porang-.
Pembuatan mesin tersebut menurut Dahlan sangat penting, untuk mencegah pasokan berlebih dari tanaman Porang yang pada gilirannya berpotensi bisa merugikan petani Porang.
“Alhamdulillah,” respon saat mengetahui kabar bahwa Hamzah akan memproduksi mesin tersebut secara massal pada akhir tahun ini.

Penulis: Muhammad Faizin
Di sarikan dari: Catatan Dahlan Iskan

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like