PERISTIWA

DPC APTRI Wilayah PG Semboro Lakukan Koordinasi dan Konsolidasi, HM Arum Sabil : Ini untuk Kesejahteraan Petani Tebu

DPC APTRI Wilayah PG Semboro saat koordinasi dan konsolidasi. (Foto: Arip Ripaldi).

Tunasnegeri.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) PTPN XI Wilayah Pabrik Gula (PG) Semboro adakan rapat kegiatan Koordinasi dan Konsolidasi, serta Musyawarah Cabang (Muscab) terkait kepengurusannya di Padepokan Arum Sabil, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, pada hari Senin, (23/5/2022).

Dalam gelaran tersebut, dihadiri secara langsung oleh HM Arum Sabil selaku Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), dan Sunardi Edy Sukamto selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APTRI Jawa Timur sekaligus Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI.

Dalam sambutannya Arum Sabil mengutarakan bahwa gelaran tersebut merupakan bentuk diskusi bersama mengenai fokus untuk memperjuangkan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, perlu dipastikan terkait hal-hal apa saja yang harus dilakukan dalam kegiatan giling pabrik gula tahun 2022.

Arum menjelaskan bahwa pada bulan lalu pihaknya sudah bertemu dan memberikan hasil survei dari tim Independen (tim survei BPP Tebu 2022, Red) kepada para pemangku kepentingan dari PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan PT. Sinergi Gula Nusantara atau SugarCo.

Dalam pertemuan itu, Arum menyampaikan agar pemerintah membeli gula dari petani dengan harga Rp 12.500 per Kg dan membeli tebu petani Seharga Rp 80.000 per kwintal.

Saat ini, holding PTPN III telah mengeluarkan surat mengenai rencana pembelian produksi gula tahun 2022 dengan harga acuan Rp 11.500, sesuai dengan hasil dari tim survei Independen.

“Beberapa hari lalu, Holding telah menerbitkan surat bahwa akan membeli gula petani dengan harga Rp 11.500. Harga tersebut berfluktuasi mengikuti harga pasar,” tuturnya.

Adanya klausul tersebut, Arum bergerak cepat untuk menindak lanjuti. Menurutnya, harga Rp. 11.500, merupakan harga minimal yang ditetapkan oleh tim survei Independen.

Jika sudah ada ketetapan harga Rp 11.500 dari tim independen, maka harga tersebut adalah harga minimal. Jika harga di pasar di bawah Rp 11.500, maka pemerintah harus tetap membeli di harga Rp 11.500.

“Konsistensi yang dilakukan oleh tim independen dan dibiayai oleh negara tersebut harus kita kawal dan jaga bersama. Oleh karena itu, karena sudah ada kepastiannya maka tolong dirawat,” tegasnya.

Terpisah, usai gelaran tersebut, Sunardi Edy Sukamto selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APTRI Jawa Timur sekaligus Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI, mengutarakan bahwa dalam koordinasi dan konsolidasi tersebut disampaikan seluruh informasi terkait kegiatan rencana giling pada tahun 2022.

“Terkait sistem pelaksanaannya, telah kita sampaikan semua dengan detail. Bahwasanya tahun ini memiliki sistem yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Yaitu, kita mengacu pada sistem beli putus sesuai potensi,” paparnya.

Edy menjelaskan jika sistem yang digunakan ada yang menggunakan sistem bagi hasil (SBH) maupun beli putus yang dilakukan oleh pabrik gula. Akan tetapi, mayoritas petani lebih memilih sistem bagi hasil karena dianggap sesuai potensi dimana petani masih bisa menebus gula mulai 5 hingga 10 persen untuk mencicipi.

“Untuk uang muka tetes, harganya Rp 1.500 per kilogram. Jumlah dalam satu kwintal terdiri dari tiga kilogram tetes, artinya per satu kwintal harganya Rp 4.500,” imbuhnya

Selain itu disampaikan pula mengenai harga karung di wilayah PTPN XI yang telah diputuskan bersama direksi. Yaitu, karung seharga Rp 4 ribu belum termasuk PPN untuk per kemasan 50 kg gula.

Edy mengatakan, mengenai jadwal giling,
PG Semboro yang awalnya tanggal 20 Mei 2022, diundur menjadi 25 Mei 2022. Hal ini dikarenakan menyesuaikan kondisi dilapangan dan untuk settle semua wilayah cluster. Dia berharap agar giling 2022 dapat berjalan baik dan lancar.

“Saat ini pasokan yang sudah masuk di PG Semboro sudah masuk sebanyak 65 ribu kwintal tebu dan direncanakan giling pada tanggal 25 Mei 2022,” ungkapnya.

Dalam hal keorganisasian PG Semboro, lanjut Edy, telah disepakati bersama baik oleh tokoh milenial maupun perwakilan dari seluruh wilayah PG Semboro, dengan tata tertib memutuskan secara aklamasi dan memilih Hj Sutrisno untuk melanjutkan kembali kepengurusan masa bakti 2022-2027.

“Kami rasa kepemimpinan beliau yang sudah di harapkan apalagi ini sudah terpilih dengan cara aklamasi ini sudah sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.

Artinya, lanjut Edy, ada kebersamaan dan kekompakan. Dia juga berharap dengan terpilihnya Hj Sutrisno kedepannya terjalin kerja sama dan saling memberikan informasi dan output yang terbuka sehingga informasi apapun dari DPP maupun DPD yang di sampaikan ke DPC ini bisa ampai ke para petani.

“Sehingga informasi ini tidak ada simpang siur dan diterima dengan baik oleh para petani,” pungkasnya. (*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like