KESEHATAN

Indinesia Peringkat Kedua Penymbang Kasus TBC Di Dunia, Ini Sebabnya

Ilustrasi orang terkena TBC. (foto: Pixabay).

Tunasnegeri.com – Menurut data Global TBC Report, pada tahun 2020, Indonesia berada di peringkat kedua negara penyumbang kasus TBC terbanyak dengan jumlah kasus sebanyak 845 ribu dan jumlah kematian sebanyak 98 ribu atau setara dengan 11 kematian per jam.

Dikutip dari laman Sehat Negeriku Kementian kesehatan, pada Sabtu (9/4/2022), Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Indonesia berada di bawah India, yang kasus TBC per tahunnya mencapai 2,6 juta, dan di atas Cina dengan 833 ribu kasus per tahun.

Tingginya kasus TBC di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti lingkungan, kekebalan tubuh, penemuan kasus, dan kepatuhan untuk meminum obat serta stigma di
masyarakat.

TBC, kata Nadia, mudah menular di daerah dengan tingkat kepadatan sangat tinggi, kumuh, dan rumah yang tidak memiliki ventilasi yang baik, tidak mendapat sinar matahari yang baik, tidak ada pertukaran udara yang baik, serta kelembabannya tinggi.

Faktor lain adalah keterlambatan untuk mendiagnosis TBC, yang terjadi karena adanya anggapan layaknya batuk biasa di masyarakat, kesulitan mengeluarkan kultur dahak (sputum) bagi masyarakat yang memiliki gejala TBC, dan masih digunakannya mikroskop untuk mendiagnosisnya.

Adapun kekebalan tubuh dipengaruhi oleh gizi dan kondisi penyakit lain yang diderita. Selain itu, kepatuhan masyarakat untuk meminum obat masih sangat rendah sehingga banyak yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

“Stigma dan diskriminasi juga masih terjadi, seperti seorang penderita TBC yang batuk berdarah itu dianggap sebagai guna-guna, kutukan,” kata Nadia.

“TBC juga masih dianggap sebagai penyakit kelas bawah, padahal TBC bisa menular ke siapa saja karena penularan TBC bisa di mana saja.”

Nadia menjelaskan, setiap orang memiliki risiko untuk tertular kuman bakteri mycobacterium tuberkulosis karena penularannya hampir sama seperti COVID-19, yakni melalui saluran pernapasan atas. Bila seseorang yang terjangkit TBC kemudian batuk, bersin menyanyi, atau berbicara atau tertawa keras, ia dapat menularkannya melalui droplet.

Meski demikian, TBC tidak menular melalui peralatan makanan. “TBC tidak menyebar melalui barang-barang pribadi, seperti pakaian, tempat tidur, peralatan makan, toilet, atau apa pun yang disentuh oleh penderita,” jelas Nadia. (*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like