PENDIDIKAN

Kegigihan Nury Khoril Jamil Mahasiswa Berprestasi IAIN Jember dalam Dunia Literasi

Nury Khoiril Jamil berfoto di Lab. Mahkamah Konstitusi IAIN Jember. (Nury Khoiril Jamil for Tunas Negeri)

JEMBER – Nury Khoiril Jamil menjadi salah satu mahasiswa Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang dikenal berprestasi. Di antara buktinya, Jamil telah menerbitkan 4 buku. Judul bukunya di antaranya Pesan untuk Negeri; Mengabdi Tanpa Batas: Inspirasi dan Jejak Alumni Fakultas Syariah IAIN Jember Periode 1997 – 2020; dan Islam, Maqashidus Syariah & Dinamika Hukum Positif di Indonesia.

Selama menjadi mahasiswa, Jamil juga sering memenangkan lomba kepenulisan.

Seperti, KTI Fersya 2018: Finalis 10 Besar, PENA 2019 Universitas Negeri Semarang: Finalis 10 Besar, Lomba Artikel Nasional Tanaszaha: Finalis 5 Besar, Lomba Opini Nasional HMPS HPI 2020: Juara 1, dan Lomba LKTI Nasional Fersya 2020: Juara 1.

“Proses tidak akan menghinati hasil,” ujar Jamil kepada Tunas Negeri, Jumat (12/3/2021).

Jamil mengatakan, prestasi yang ia peroleh melalui banyak proses.

Ketika Sekolah Dasar hingga SMA tidak pernah belajar menulis. Minat menulis muncul ketika di bangku kuliah.

Setiap hari ia menulis minimal 1 opini dengan pembahasan isu-isu yang sedang hangat dibicarakan.

“Setiap pagi membuat catetan kecil yang nantinya akan dijadikan karya tulis. Paling tidak setiap hari menulis 1 opini atau karya ilmiah lainnya. Meskipun tidak bisa jadi satu karya, yang penting ada gagasan dan ide,” ujar Jamil yang juga Direktur KOMPRES (Komunitas Peradilan Semu) IAIN Jember itu.

“Ide akan muncul ketika melihat isu-isu yang sedang hangat di media atau lingkungan,” tambah Jamil.

Menurutnya, ide mudah muncul jika pintar melihat keadaan.

Dia mengatakan, selain seorang penulis pintar dalam keilmuan tentang literasi, penulis juga harus aktif dalam menjalankan kegiatan rohani.

“Selain aspek keilmuan nonreligi, penulis harus aktif kegiatan rohani. Coba lihat kiai dan pemuka agama santuy banget tapi pinter,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada penulis pemula dalam mengatasi rasa kurang percaya diri (self doubt).

Menurutnya, percaya diri merupakan hal pertama yang dimiliki penulis. Penulis juga harus berani mencoba.

“Yakin untuk mencoba, jika tidak berani mempublikasikan tulisan maka tidak akan ada evaluasi ke depannya,” imbuhnya. (*)

Pewarta: Badiatur Roqibus Syafaah

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like