Uncategorized

Ketersediaan dan Kebutuhan Pupuk Tidak Seimbang, HM Arum Sabil Perkirakan Pupuk Bersubsidi Akan Terus Menjadi Masalah

HM Arum Sabil saat berikan sambutan dalam musyawarah nasional II APTRI (Foto: Tunasnegeri)

Tunasnegeri.com – HM Arum Sabil, seorang praktisi Agribisnis dan Pendidikan Indonesia, mengungkapkan terdapat keterbatasan para petani tebu guna mencapai hasil produksi yang berdaya saing.

“Terdapat empat hal yang kerap menjadi masalah petani tebu, yakni pupuk, bibit, pembiayaan, dan pemasaran termasuk harga jual,” tutur pria yang akrab di sapa Abah Arum ini kepada Tunas Negeri, pada Sabtu (19/3/2022).

Perihal pupuk, Abah Arum memperkirakan jika pupuk bersubsidi akan terus menjadi masalah karena kebutuhannya yang tinggi namun belum bisa dipenuhi oleh negara.

Menurutnya, kebutuhan pupuk secara nasional berkisar 45 juta ton/tahun. Sedangkan menurut perhitungan Kementerian Pertanian, kebutuhannya sekitar 26 juta ton/tahun. Namun, kemampuan negara dalam mengalokasikan dana kebutuhan pupuk bersubsidi pada tahun 2021 hanya cukup untuk sekitar 9 juta ton pupuk.

“Hal tersebut adalah mustahil untuk dapat menyelesaikan persoalan pupuk bersubdidi di lapangan, sehingga akan menimbulkan masalah. Karena, antara kebutuhan dan kemampuan negara untuk mencukupi tidak bisa terpenuhi,” terangnya.

HM Arum Sabil saat berikan sambutan dalam musyawarah nasional II APTRI (Foto: Tunasnegeri)

Adanya keterbatasan anggaran, menyebabkan negara hanya mampu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi sekitar 9 juta ton dengan nominal hampir Rp 32 triliyun.

Oleh karena itu, para petani tebu tidak ingin menjadi beban negara. Nantinya, daripada pupuk bersubsidi tidak ada kepastian dan menimbulkan konflik karena tidak mungkin bisa dibagi, maka lebih baik negara tidak perlu mensubsidi pupuk pada petani.

Namun, negara perlu mempersiapkan pupuk yang berkualitas dan ketentuan harga eceran tertinggi (HET) yang jelas. Jika nantinya pupuk bersubsidi dicabut, maka biaya produksi petani dihitung tanpa memasukan komponen pupuk bersubsidi.

“Juga, jika negara tidak mampu mensubsidi bunga bank, maka kebijakan tersebut tidak bermasalah dicabut. Asalkan komponen pupuk bersubsidi tidak dimasukkan dalam menghitung biaya produksi,” jelasnya.

Biaya produksi tersebut dijadikan dasar dalam menentukan harga gula petani. Agar memiliki harapan bertani tebu memiliki nilai ekonomi yang baik, serta memberikan harapan dan kepastian, maka perlu ditetapkannya harga jual petani diatas biaya produksinya.

“Menurut saya, tidak hanya petani tebu saja. Tapi, para petani lain pun juga bingung dalam mencari pupuk bersubsidi guna mencukupi kebutuhan lahannya,” lanjutnya.

Adanya keterbatasan jumlah yang dialokasikan oleh negara, maka dapat membuat ketidak seimbangan terhadap ketersediaan pupuk dengan kebutuhan petani. Hal tersebut yang dikhawatirkan beresiko menjadi konflik di lapangan nantinya. (*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like