Uncategorized

Mas’ud Said, Ahli Pemerintahan yang Gawangi ISNU dan MUI Jatim


Cendekiawan Hibrida. Tak salah jika julukan itu disematkan sebaian orang kepada Profesor M. Mas’ud Said. Meniti karir intelektual dan organisasi dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), Mas’ud Said juga cukup lama dan intens bersentuhan dengan intelektualitas Muhammadiyah.
Sepanjang tahun 1993 – 1999, Mas’ud Said berguru dua tokoh NU dan Muhammadiyah di Malang yang kemudian menjadi tokoh nasional. Mereka adalah KH Hasyim Muzadi (adik kandung KH Muchith Muzadi) dan Prof Abdul Malik Fadjar (yang kemudian menjadi Mendikbud). Mas’ud Said juga berguru kepada Prof M. Ryaas Rasyid yang dikenal sebagai begawan otonomi daerah (otoda) serta KH Asrori Al Ishaqi, ulama kharismatik yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah, Surabaya.
Segalanya dimulai dari Sidoarjo. Mas’ud Said memang terlahir dari keluarga nahdliyin. Meski menempuh pendidikan di sekolah umum, ia mengasah bekal kepemimpinannya di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan juga Pramuka yang ada di Sidoarjo. Di sana, Mas’ud dipercaya menjadi Ketua IPNU Anak Cabang (Ancab) Tulangan, menggantikan KH Agoes Ali Masyhuri.
Bekal kesantriannya kemudian diperdalam dengan mondok di Pondok Pesantren al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo pada tahun 1982. Adalah kerabatnya, KH Masduzi Zakaria, pengasuh Ponpes Darunnajjah Tulangan yang mendorong Mas’ud untuk nyantri di salah satu pesantren tertua di Jawa Timur itu.
Selepas itu, pengalaman akademisnya dimulai dengan menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya hingga lulus tahun 1990. Selama kuliah di Malang itu, Mas’ud juga sempat mendapat amanah sebagai Ketua Pergerekana Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang. Dari situlah, Mas’ud menjadi santri kalong KH A. Hasyim Muzadi dan turut mendampinginya dalam berbagai aktivitas ceramah.
Setelah lulus sarjana, Mas’ud diterima menjadi dosen PNS yang diperbantukan untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kebetulan saat itu, UMM sedang dipimpin oleh Prof. A. Malik Fajar. Lahir dan besar sebagai aktivis NU, tak membuat Mas’ud canggung saat berada di kampus Muhammadiyah terbesar di Jatim itu. “Saya belajar banyak dari manajemen pengelolaan kampus milik Muhammadiyah yang memang dikenal disiplin dan modern itu. Ada tradisi menghindarkan rasa kepemikikan jam’iyah secara lebih kolektif,” ujar Mas’ud suatu ketika.
Mas’ud mengenang, sosok Malik Fadjar sebagai tokoh besar yang disiplin memisahkan kakayaan lembaga dengan kepemilikan pribadi. Sebagai dosen ilmu sosial di UMM, Mas’ud atas fasilitasi Prof A Malik Fajar, bisa berkenalan dengan Prof M. Ryass Rasyid yang saat itu sedang bersinar sebagai cendekiawan. “Berguru ke Prof M. Ryaas Rasyid itu membuka jejaring nasional pada aras keilmuan pemerintahan,” tutur Mas’ud mengenang.
Karir akademis Mas’ud yang lahir pada 8 Maret 1964 itu terus menanjak hingga ia mendapatkan beasiswa doktoral dari AusAid. Mas’ud berhasil menyelesaikan gelar Ph.D dalam bidang ilmu pemerintahan dari School of Political and International Studies- Flinders University – Adelaide – Australia. Puncaknya, adalah ketika 2009, M Mas’ud Said dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Malang dengan pidato ilmiah Menggagas Innovative Bureaucracy Pemerintahan Indonesia.
Sebagai akademisi yang berlatar belakang aktivis, Mas’ud tak mau hanya menjadi cendekiawan di menara gading. Dia aktif membina lembaga sosial antara lain LAZIS Sabilillah Malang, yayasan Nurul Abyadh Malang, Ketua Litbang PW NU Jawa Timur, Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pengembangan Sumberdaya Manusia NU periode 1999 – 2014 dan pernah menjadi Dewan Penasehat Majelis Dzikir Al Khidmah. Saat ini, ia diamanahi menjadi Ketua Pimpinan Wilahyah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur 2018—2023 dan Ketua Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur 2020—2025
Pengalaman profesional Mas’ud Said dilengkapi dengan sederet amanah. Antara lain sebagai Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah (2011-2014) dan Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pengembangan SDM dan Program Kementerian Sosial (2015-2018).
Bak kembali ke rahimnya, Mas’ud Said kini diberi amanah untuk membesarkan Universitas Islam Malang (Unisma), salah satu kampus terbesar milik Nahdlatul Ulama (NU). Mas’ud dipercaya menjadi Direktur Pascasarjana Unisma.


Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like