KESEHATAN

Meski Melandai, WHO Tegaskan Virus Covid-19 Masih Jauh dari Endemi

Ilustrasi situasi saat pandemi. (Foto: Pixabay).

Tunasnegeri.com – Di Indonesia kasus penyebaran Covid-19 kian hari kian melandai, dan tetunya banyak yang merasa situasi Pandemi akan berubah menjadi endemi.

Akan tetapi World Health Organization (WHO) punya pandangan lain. Covid-19, menurut WHO masih jauh dari penyakit endemik dan masih dapat memicu wabah besar di seluruh dunia.

Dilansir dari Aljazeera pada Jumat (15/4/2022), Direktur Program Kedaruratan Kesehatan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa salah jika berpikir bahwa jika COVID-19 mereda dan menjadi endemik, itu berarti akhir dari masalah.

“Saya tentu tidak percaya kita telah mencapai sesuatu yang mendekati situasi endemik dengan virus ini. Itu belum menjadi penyakit endemik,” katanya.

Ryan menjelaskan bahwa virus Covid-19 belum masuk ke pola musiman atau penularan apa pun, dan tetap mampu menyebabkan epidemi besar.

“Jangan percaya endemik sama saja sudah selesai, ringan atau tidak masalah. Itu sama sekali tidak,” kata Ryan, menyebut tuberkulosis dan malaria sebagai penyakit endemik yang masih membunuh jutaan orang per tahun.

Sementara itu, Pemimpin Teknis COVID-19 WHO Maria Van Kerkhove, yang dirinya telah tertular penyakit itu dan diisolasi di Amerika Serikat, mengatakan virus itu terus beredar pada tingkat tinggi, menyebabkan “kematian dan kehancuran dalam jumlah besar”.

“Kita masih berada di tengah pandemi ini. Kita semua berharap tidak demikian. Tapi kami tidak dalam tahap endemik, ”katanya.

Lebih jauh, Maria mengungkapkan Pekan lalu melihat jumlah kematian COVID-19 terendah yang tercatat sejak hari-hari pertama pandemi pada awal 2020.

Namun, lebih dari 20.000 kematian dilaporkan, yang menurut Ryan “masih terlalu banyak… kita harus bahagia tapi kita tidak boleh puas”.

Dia menjelaskan bahwa begitu penyakit epidemi menetap menjadi pola endemik, mereka sering dapat menjadi penyakit anak-anak, seperti campak dan difteri, karena “saat anak baru lahir, mereka rentan”.

Tetapi jika tingkat vaksinasi turun, seperti yang terjadi pada campak, epidemi bisa pecah lagi.

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like