EKONOMI PERTANIAN

Negara Masih Harus Impor Gula, Ini Gagasan Arum Sabil Untuk Bantu Petani

Foto: HM Arum Sabil, Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) saat menjadi pembicara dalam webinar terkait impor gula, yang digelar oleh Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi). (Foto: Istimewa )

Caption: HM Arum Sabil, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) saat menjadi pembicara dalam webinar terkait impor gula, yang digelar oleh Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi). (Foto: Istimewa )

 

 

TUNAS NEGERI, JEMBER – Praktisi pertanian, HM Arum Sabil punya gagasan menarik terkait impor gula. Menurut Arum, kebijakan impor gula tidak terhindarkan mengingat produksi dalam negeri yang masih belum mencukupi. Karena itu, yang harus menjadi perhatian bersama adalah mencari solusi agar impor gula bisa mensejahterakan petani.

“Gagasan saya, sebaiknya sekalian saja negara yang mengendalikan impor tersebut. Lalu keuntungannya digunakan untuk stabilisasi harga gula,” ujarArum saat berbicara dalam webinar yang digelar Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) pada Sabtu (20/03).

Webinar yang melibatkan berbagai pihak -mulai dari pemerintah, DPR, BUMN hingga praktisi itu- mengambil tema utama “Gula tebu: Swasembada atau Impor Terus”.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pertanian, kebutuhan gula nasional per tahun saat ini mencapai 5,8 juta ton. Jumlah ini tidak bisa dicukupi oleh produksi gula dalam negeri yang baru baru mencapai 2,1 juta ton pertahun.

“Sekalipun penambahan lahan maupun intensifikasi, mustahil untuk memenuhi defisit 3,7 juta ton itu dalam waktu singkat,” ujar Arum yang juga Ketua Dewan Pembina Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) ini.

Arum telah melakukan simulasi sederhana. Dari 3,7 juta ton gula yang harus dipenuhi dari impor tersebut, negara bisa mengambil keuntungan di kisaran Rp 2 ribu per kilogram. “Ada keuntungan sekitar Rp 7,4 Triliun yang bisa digunakan untuk stabilisasi harga,” papar pria yang diamanahi sebagai  Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ini.

Stabilisasi tersebut antara lain bisa dilakukan melalui Bulog. Polanya, ketika harga tebu di tingkat petani jatuh, pemerintah bisa membantu subsidi untuk pembelian hasil tani. Terlebih, produksi nasional baru di kisaran 2,1 juta ton per tahun. Begitu pula ketika harga gula melambung, pemerintah bisa pula memberikan subsidi agar tidak memberatkan masyarakat yang menjadi konsumen.

“Dengan begitu, negara akan benar-benar hadir bagi petani, sekaligus gagah di masyarakat karena kemampuannya mengendalikan harga,” ujar Arum yang diamanahi sebagaii Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini.

Pentingnya negara hadir untuk mengoptimalkan fungsi pengendalian harga, juga dikemukakan oleh Herman Khaeron, anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi masalah pertanian.

“Pada dasarnya impor gula dilakukan pemerintah untuk mengatasi lonjakan
harga seiring dengan naiknya permintaan konsumen pada Ramadhan dan Lebaran
2021, namun tata kelola perdagangan gula impor perlu menjadi perhatian agar benar
berdampak ditingkat masyarakat,” ujar Herman.

Untuk memperkuat kemampuan negara dalam mengendalikan harga gula domestik pemerintah harus memastikan tiga faktor. Mulai dari ketersediaan bahan baku; kemampuan produksi pabrik gula; dan kebijakan pemerintah yang mendukung proses produksi hingga distribusi gula dari industri gula domestik.

“Sampai saat ini pengembangan industri gula nasional masih terkendala luasan lahan. Karena itu, pemerintah harus membaut road map yang jelas,” tutur politikus Partai Demokrat ini.

Hal senada disampaikan oleh Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Perekonomian. “Kita tetap berkomitmen untuk mewujudkan target swasembada pangan, termasuk dari komoditas gula. Impor gula itu adalah pilihan yang tidak bisa dihindarkan, bukan sebuah tujuan,” ujar Musdhalifah.

 

 

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like