PERISTIWA PERTANIAN

Panenin, Wujud Nyata Generasi Muda dalam Pemberdayaan Pertanian

HM Arum Sabil bersama Ailsa Callista di Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi, Jember. (Foto: Arip Ripaldi).

Tunasnegeri.com – Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki mayoritas penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Hal tersebut menandakan bahwa Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas.

Selain itu, Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditambah posisi Indonesia yang dinilai sangat strategis.

Namun, saat ini minat generasi muda dalam pertanian banyak dinilai rendah. Sebab, pertanian dipandang sebagai usaha yang kurang menjanjikan. Selain itu juga, sistem pertanian dari hulu ke hilir yang masih banyak kurang berpihak kepada petani sehingga kerap dianggap merugikan.

Berbeda halnya dengan keberadaan empat anak muda asal Jakarta yang mampu menggerakan pertanian dengan inovasi digitalnya dengan membangun Panenin. Panenin merupakan suatu usaha dalam pemberdayaan pertanian digital.

Panenin didirikan di tengah Pandemi pada awal 2022 oleh empat pemuda yang penuh semangat dalam membangun sektor pertanian di Indonesia.

“Kami menawarkan produk dan layanan untuk meningkatkan kapasitas produksi petani lokal dan memberikan kepuasan dengan harapan dapat menjadi solusi utama untuk pasokan komoditas di Indonesia,” papar Ailsa Callista selaku Founder dan CEO di Panenin kepada Tunas Negeri.

Sementara itu, HM Arum Sabil, seorang praktisi Agribisnis, Perkebunan, Peternakan dan Pertanian, mengajak empat anak muda tersebut untuk berkeliling di Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi, Jember, serta berkunjung ke PT Mitratani Dua Tujuh pada Selasa, (28/06/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Arum mengungkapkan, bertani pada hakekatnya bukanlah jenis pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, pertanian merupakan bidang pekerjaan yang memerlukan keseriusan, didasari dengan pengetahuan khusus, dan ditangani secara profesional.

Selain itu, dalam hal pertanian juga harus memiliki keterampilan teknis yang memadai dan yang paling penting adalah memiliki kesiapan mental untuk mampu menghadapi berbagai resiko kegagalannya.

“Dunia pertanian di era modern ini tidak lagi hanya dapat ditangani secara tradisional. Namun, untuk menghasilkan produk pertanian yang unggul dan berdaya saing, kini telah ditunjang dengan berbagai kecanggihan teknologi pertanian yang serba digital,” terangnya.

Menurut Arum, untuk mendorong generasi milenial ke dalam dunia pertanian perlu adanya upaya khusus dalam memilih profil generasi muda yang cocok dan tahan uji di dunia pertanian. Dibutuhkan generasi muda yang menjadi pencipta dan penemu dengan pemikiran yang inovatif. Hal tersebut tentunya akan mendukung bagaimana pertanian nantinya memiliki daya saing.

Oleh karena itu, tidak harus anak muda memiliki lahan pertanian yang luas dahulu baru bisa terjun untuk ikut andil dalam memajukan dan membangun sektor pertanian Indonesia.

“Dalam subsistem agribisnis, pertanian tidak hanya dipandang mengenai on-farm atau usahataninya saja, melainkan bisa dari sarana prasana, pengolahan, maupun pemasarannya,” imbuh Arum.

Arum menjelaskan jika kedepannya anak anak muda yang tergabung dalam Panenin tersebut juga akan turut berkecimpung mengembangkan sektor perkebunan tebu. Sehingga, penting bagi mereka untuk dapat membangun sinergi dengan petani tebu.

“Mereka nantinya hadir untuk membantu dalam mengatur sistem pembiayaan pertanian tebu dan juga sarana produksi pertanian,” papar Arum.

Disamping praktisi, Arum yang juga menjabat sebagai Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jatim mengatakan bahwa kegiatan yang mereka lakukan merupakan bagian dari Duta Pramuka Produktif. Kegiatan pengembangan sektor pertanian selama ini memang tengah menjadi konsen yang dilakukan oleh Kwarda Jatim.

“Mereka bukan hanya membangun sistem bisnis, tapi juga edukasi pendidikan melalui pramuka. Mereka ingin membangun sistem pertanian yang produktif dan memiliki daya saing. Salah satunya dengan menggandeng Pramuka melalui kegiatan Pramuka Produktif,” terangnya.

Saat di PT Mitratani Dua Tujuh (M27), Arif Suhariadi selaku Direktur memamerkan produk yang dihasilkan oleh M27.

“Selain memproduksi edamame, M27 juga memproduksi sayuran beku atau frozen lainnya, seperti okra, buncis, serta sweet potato,” katanya.

Sebagai produsen sayuran beku terdepan, berkualitas tinggi, dan berorientasi pada standar makanan sehat, Arif menjelaskan saat ini M27 sudah mengekspor hasil produknya hingga ke lima benua termasuk negara Jepang dan Amerika.

“Hanya yang pasar pokok ada di Jepang, selebihnya Amerika, Australia, Timur Tengah hingga Afrika,” ujarnya.

Lebih jauh, Arif mengucapkan terima kasih kepada Arum Sabil, karena telah membawa anak muda dengan semangatnya dalam mengembangkan bidang pertanian untuk diperkenalkan kepada M27.

“Saya bangga kepada mereka. Ini bisa jadi teladan anak muda, lanjutkan apa yg di inginkan. Saya akan support betul. Kami terbuka terkait apa yang sedang diharapkan oleh mereka,” pungkasnya. (*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like