SOSIAL

Perang Rusia dan Ukraina Bisa Berimbas Pada Makanan dan Energi

HM Arum Sabil, seorang praktisi Agribisnis dan Pendidikan Indonesia (Foto Tunasnegeri)

HM Arum Sabil, seorang praktisi Agribisnis dan Pendidikan Indonesia menilai, pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pupuk dan gandum di dalam negeri akibat perang Rusia-Ukraina.

Karena, menurut pria yang akrab di sapa Abah Arum ini, perang tersebut dikhawatirkan dapat menggangu beberapa komoditas pangan penting di Indonesia.

“Jika perang Rusia dan Ukraina ini tidak segera menemukan kesepakatan damai, lambat laun pertumbuhan ekonomi secara global juga akan melandai,” kata Abah Arum.

Lebih jauh, Abah Arum menjelaskan bahwa Rusia merupakan salah satu eksportir utama minyak bumi, gas alam, dan barang tambang dunia, sedangkan gas alam adalah bahan baku untuk memproduksi pupuk urea.
Ukraina sendiri merupakan salah satu eksportir utama gandum terbesar ke empat di dunia.

“Sebagai penghasil gas alam, Rusia juga merupakan produsen pupuk yang cukup besar,” ujarnya.

Menurut Abah Arum, adanya sanksi pembatasan ekspor yang dijatuhkan kepada Rusia oleh negara-negara barat akan mengakibatkan terganggunya suplai bahan makanan dan energi.

Sehingga, konflik tersebut juga akan berpengaruh di Indonesia. Maka dari itu, Abah Arum berharap Indonesia dapat berdaulat di bidang pangan dan energi terbarukan. Karena menurutnya, jika berbicara energi yang ada tanpa ada inovasi, maka akan habis.

“Kita harus terus berinovasi, salah satunya melalui produktivitas yang berdaya saing. Berbicara soal perang, imbasnya kita semua merasakan, saat ini saja kalau kita lihat pupuk Urea harganya sudah naik 200 persen lebih, itu karena salah satu penghasil Urea itu adalah Rusia dan harga sudah menjadi Rp12.425 per kilogramnya. Harga kini sudah di atas Rp20 ribu, yang membuat barang ini sangat langka di Indonesia juga,” pungkasnya. (*)

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like