BUDAYA SOSIAL

Sakola Mamaca, Ikhtiar Lestarikan Tradisi Literasi Kultur Madura Pandahulungan

Pembacaan Sakola Macapat yang digelar oleh Lesbumi dan ISNU

 

Caption: Pembacaan Sakola Mamaca yang merupakan tradisi literasi yang mulai luntur, di Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, Jember. Acara tersebut digelar oleh Lesbumi Jember dengan didukung oleh PC ISNU PC NU Jember. (Foto: Istimewa/ Lesbumi)

 

Minggu, 21 September 2021

 

TunasNegeri.com – Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, Indonesia memiliki banyak tradisi literasi. Salah satunya adalah tradisi Sakola Mamaca yang berakar pada kultur budaya masyarakat Madura.

Sakola Mamaca atau budaya Mocopat adalah tradisi membaca syair dalam bahasa Madura yang berisi pesan-pesan kebajikan atau keagamaan. “Tradisi ini harus dilestarikan karena menjadi tanggung jawab kita semua. Apalagi, komunitas yang melestarikannya kini semakin langka,” ujar Dr. Hobri, M.Pd, ketua Ikatan Sarjana NU – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ( ISNU-PCNU) Jember.

Terdorong oleh hal tersebut, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Jember dengan didukung oleh ISNU beberapa waktu lalu menggelar Sakola Mamaca yang dipusatkan di Masjid Nurus Shobirin Ponpes Asy Syifa Cumedak, Sumberjambe. Acara yang digelar pada Selasa (16/03) itu bertujuan untuk melestarikan salah satu kesenian tradisional di Nusantara, yang menjadi salah satu fokus gerak dari Lesbumi.

“Kami berharap bisa menciptakan generasi penerus yang handal dalam melakukan, memahami, dan menginterpretasi macopat. Acara ini juga dalam rangka memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw,” lanjut Hobri yang juga dosen FKIP Universitas Jember (Unej) ini.

Pembacaan Sakola Macapat yang digelar oleh Lesbumi dan ISNU
Pembacaan Sakola Macapat yang digelar oleh Lesbumi dan ISNU

Hal tersebut juga diamini oleh KH. Nisful Laily Iskamil, Pengasuh Ponpes Asy-Syifa yang mengatakan bahwa Sakola Mamaca merupakan program yang tepat. Sebab sangat dibutuhkan untuk pelestarian tradisi mamaca.

“Setelah saya amati dan pahami, ternyata dalam teks mamaca itu terkandung nilai-nilai luar biasa yang bersumber dari Islam. Baik yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad maupun terkait ajaran Islam yang lain. Ini adalah bukti bahwa tradisi mamaca tidak berseberang dengan pokok-pokok syariat Islam,” ujar KH Nisful.

Sementara itu, Siswanto, ketua Lesbumi Jember menyampaikan bahwa Sakola Mamaca adalah program yang akan terus bergulir menjadi pertemuan rutin.

“Akan ada pertemuan berikutnya yang nantinya lebih fokus pada teknik-teknik dasar membaca teks mamaca, mulai mengenal metrum atau tembang, latihan membaca, pembukuan dan dokumentasi naskah mamaca,” ungkapnya.

Pembacaan Sakola Macapat yang digelar oleh Lesbumi dan ISNU
Pembacaan Sakola Macapat yang digelar oleh Lesbumi dan ISNU

 

Dengan adanya program tersebut, Bapak Nurul dan Bapak Nursia, pelaku tradisi mamaca yang didapuk sebagai pemateri mengaku sangat senang jika ada generasi muda yang ingin belajar mamaca.

“Kami sudah 30 tahun mengabdikan diri (melestarikan tradisi mamaca). Sering diundang setiap ada hajatan nikah, selamatan rumah dan lain-lain. Semoga dengan adanya program ini, ada yang kelak meneruskan kami. eman-eman, ini (tradisi mamaca) adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,”  ungkap Bapak Nursia.

 

Reporter: Arip Ripaldi

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like