EKONOMI PERTANIAN

Sektor Pertanian di Masa Pandemi COVID-19: Apakah Terdampak? Ini Ulasan HM Arum Sabil

Grafik persentase ilustrasi laju pertumbuhan lapangan usaha subsektor pertanian 2019 dan 2020

Tunasnegeri.com – Virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan yang dapat menular ke manusia. Sejak diumumkannya kasus pertama di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, virus ini terus menyebar dan berdampak terhadap berbagai sektor. Salah satunya sektor pertanian.

Sektor pertanian dapat diartikan sebagai pemanfaatan potensi alam baik tumbuhan dan atau hewan untuk diperkembangbiakan oleh manusia sebagai sumber pangan. Sektor tersebut menjadi tumpuan terhadap PDB meskipun di tengah pandemi covid-19.

Menurut data dari BPS, ekonomi Indonesia pada awal pandemi COVID-19 yaitu pada triwulan II tahun 2020 turun 5,32 persen. Penurunan ini dipicu oleh berbagai sektor yang tumbuh negatif pada triwulan ini. Sektor yang paling terdampak adalah transportasi dan pergudangan, serta akomodasi makanan dan minuman. Meskipun demikian, sektor pertanian pada triwulan ini tumbuh sebesar 2,8%.

Selama pandemi hingga Agustus 2020, sektor pertanian menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadi satu-satunya sektor yang memiliki nilai pertumbuhan positif di tengah ekonomi nasional yang sedang mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekonomi ini secara teori dipicu oleh naiknya tingkat permintaan baik domestik maupun luar negeri. Apalagi pertanian dinilai sebagai sektor yang dibutuhkan sebagai pertahanan tubuh di saat pandemi. Anjuran kesehatan untuk mengonsumsi makanan yang bergizi dapat ditemui dalam produk buah, sayur, dan hewan.

H.M Arum Sabil, KA Kwarwa Pramuka Jatim serta praktisi Agribisnis dan Pendidikan Indonesia (Foto Tunas Negeri)

HM Arum Sabil Ketua Kwarda Jatim menyadur data BPS mengatakan Pertumbuhan pada sektor pertanian di triwulan II 2020 merupakan sumbangan positif hampir semua subsektor, kecuali subsektor peternakan. Subsektor tanaman pangan tumbuh 9,23% (y-on-y) dan merupakan kontributor utama dengan angka pertumbuhan terbesar. Menurut BPS, subsektor tanaman pangan ini terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Subsektor tanaman pangan ini paling dibutuhkan di masa pandemi untuk memenuhi kecukupan pangan nasional. Pergeseran musim tanam mengakibatkan musim panen raya dan puncak panen juga bergeser pada triwulan II-2020. Hal tersebut menjadi faktor kunci tercapainya tingkat pertumbuhan ini.

Secara year-on-year (y-on-y), subsektor holtikultura dan tanaman perkebunan mengalami pertumbuhan yang konsisten tahun 2019 dan 2020. HM Arum Sabil Praktisi Agribisnis Nasional menyebutkan pertumbuhan konsisten ini menandakan bahwa pandemi Covid-19 tidak memberi pengaruh signifikan terhadap kinerja kedua subsektor tersebut. Tanaman holtikultura tumbuh 0,86% disebabkan tingginya permintaan akan sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat sebagai komoditas daya tahan tubuh di masa pandemi.

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like