EKONOMI SOSIAL

Survei Ekonomi Rumah Tangga Indonesia di Masa Pandemi COVID-19

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi telah menyelesaikan survei Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ekonomi Rumah Tangga Indonesia. “Studi ini merupakan bagian dari konribusi pengetahuan sebagai upaya menjadi dasar perubahan kebijakan. Ini adalah kali yang kedua untuk penelitian bidang ekonomi setelah sebelumnya terkait survei Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah,” tutur Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti pada Rabu(19/8) di Jakarta.

Dirinya menyebutkan bahwa mitigasi dan persiapan pemulihan ekonomi rumah tangga  adalah kontribusi ilmu sosial yang digunakan sebagai dasar perubahan kebijakan untuk Bangsa.Indonesia.

Nuke menerangkan, rumah tangga ini menjadi inti kekuatan ketahanan ekonomi bangsa. “Rumah tangga adalah unit analisis yang tidak bisa diabaikan  mengingat negara ini bisa mempunyai daya tahan yang tinggi ketika rumah tangganya tidak bisa bertahan secara baik”, tegasnya.  Nuke juga mengatakan hasil dari  survei dapat digunakan untuk kebijakan penguatan ekonomi rumah tanga kelompok pekerja dan usaha.

Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho menjelaskan ada perbedaan yang signifikan antara Rumah Tangga Pekerja dan Rumah Tangga Usaha dalam mengelola ekonomi rumah tangga. “Perbedaan ada di pengelolaan pada pola konsumsi, pendapatan, dan protokol kesehatan sebagai respon dari dampak pandemi dan ekspektasi masa depan,” jelasnya. Agus menyebutkan, dari sisi pendapatan untuk kedua kelompok tersebut sama-sama mengalami penurunan pendapatan, akibat dari pergeseran kelompok pengeluaran tanpa mengungkit konsumsi secara umum.

Agus mengatakan, penurunan pendapatan diakibatkan pemotongan upah dan gaji, penurunan profit, dan terbatasnya ruang konsumsi. Adanya bantuan sosial sangat membantu untuk menopang pendapatan tetapnya. “Bantuan berbentuk sembako yang umum di terima masyarakat. Akan tetapi, apakah ini efektif sehingga penting untuk di analisis bantuan dalam bentuk sembako ini di ganti dalam bentuk lainnya”, jelasnya.

Temuan survei
Survei Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ekonomi Rumah Tangga: Mitigasi dan Pemulihan dilaksanakan secara daring pada 10-31 Juli 2020, direspon oleh 2.258 rumah tangga yang tersebar di 32 provinsi dan terjaring 1.548 responden yang memenuhi syarat untuk dianalisis sebagai sampel. Responden berstatus Rumah Tangga Pekerja yaitu, 79,7 persen dan selebihnya pada Rumah Tangga Usaha dengan komposisi 20,3 persen.

Data survei menunjukkan bahwa dampak terhadap rumah tangga  pada kemampuan pengelolaan ekonomi rumah tangga, 87, 3 persen Rumah Tangga Usaha dan 64,8 persen Rumah Tangga Pekerja merasa mengalami kesulitan keuangan. Sebaliknya, berdasar Rumah Tangga yang mengalami kesulitan keuangan, Rumah Tangga Pekerja lebih merasa berat untuk membiayai konsumsi kebutuhan pangan yaitu, 52,9 persen, adapun Rumah Tangga Usaha relatif lebih rendah yaitu, 37.8 persen. “Goncangan kesehatan dan kebijakan PSBB menggeser pola konsumsi makanan siap saji bagi seluruh rumah tangga, dimana penurunan pengeluaran makanan siap saji, diikuti peningkatan belanja bahan makanan,” ungkap Agus.

Terkait stimulus ekonomi paket bantuan sosial yang diterima dari pemerintah, 19,4 persen rumah tangga melaporkan pernah mendapatkan bantuan sosial. Sebagian besar penerima yang merasakan penurunan pendapatan terjadi di kelompok Rumah Tangga Usaha. “Rinciannya 56,36 persen pada Rumah Tangga Usaha pendapatan rendah dan 43,33 persen Rumah Tangga Pekerja yang penghasilannya kurang dari 1,5 juta,” sebut Agus. Dirinya menjelaskan, bantuan sosial tidak secara langsung mempengaruhi ekspektasi masa depan rumah tangga.

Sedangkan untuk ekspektasi rumah tangga terhadap perubahan pendapatanrumah tangga dengan pendapatan menurun di tengah pandemi, memiliki ekspektasi paling rendah untuk dapat bekerja normal dalam 6 bulan ke depan. “Rumah Tangga Usaha dengan tingkat pendapatan tetap dan meningkat, merasa lebih yakin untuk bekerja dibandingkan Rumah Tangga Pekerja dan berbagai kelompok perubahan pendapatan masih enggan untuk melakukan aktivitas konsumsi tersier,” ungkapnya.

Rekomendasi Survei
Tim peneliti merekomendasikan enam hal kepada pemerintah. Pertama, memfasilitasi rumah tangga yang memiliki pendapatan tetap dan stabil untuk memiliki keinginan konsumsi, seperti dukungan cicilan 0% untuk belanja. Kedua, mememperhatikan skema keuangan negara yang lebih fleksibel.

Ketiga,  mendorong aktivitas masyarakat dengan tetap mendorong untuk memperhatikan protokol kesehatan. Keempat, menghindari bias informasi yang mengakibatkan pesimisme untuk melakukan aktivitas ekonomi. Kelima, memperkuat solidaritas sosial bersama masyarakat, serta perlu adanya variasi dan fleksibilitas untuk peningkatan pendapatan Rumah Tangga Usaha. (mtr/ed: fz)

 

Sumber: LIPI

Bagikan Ke:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like